Sponsors Link

Ketahui 68 Perbedaan Dispepsia dan Gastritis yang Belum Banyak Diketahui

Sponsors Link

Dispesia adalah sekumpulan gejala-gejala gangguan pada sistem pencernaan seperti nyeri ulu hati, perut kembung, mual, rasa penuh, mudah kenyang, berdasarkan dari sekumpulan gejala ini juga dapat disebabkan oleg berbagai jenis kondisi, misalnya penyakit asam lambung atau disebut juga GERD, pankreatitis, dan gastritis. Dapat dilihat bahwa gastritis termasuk pada bagian dispepsia. Gastritis merupakan keadaan ketika lapisan lambung mengalami iritasi, peradangan atau pengikisan dengan gejala-gejala seperti nyeri ulu hati atau pada perut kiri atas, hilang nafsu makan, perut kembung, muntah, mual, dan sebagainya. Gejala pada gastritis umumnya hampir sama dengan dispepsia. (Baca juga: Bagaimana masuk angin dapat menyebabkan Maag?)

ads

Perbedaan Dispepsia dan Gastritis?

Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau juga sindrom yang terjadi pada bagian sistem saluran pencernaan bagian atas seperti rasa nyeri, kembung, mual dan muntah. Dispepsia terbagi atas dua yaitu dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Dispepsia organik muncul karena terjadi gangguan organ baik di lambung atau sekitarnya dan dispepsia fungsional ialah kumpulan gejala yang tidak disadari dengan adanya kerusakan pada organ.

Gastritis ialah keadaan dimana mukosa atau lapisan dinding lambung mengalami peradangan baik disebabkan oleh faktor eksternal (seperti obat, alkohol, kafein, zat kimia, infeksi) atau juga faktor internal (terjadinya asam lambung yang meningkat dan menurunkan produksi mukus). Pada dalam lambung ditemukan faktor defensif (mukus, bikarbonat) dan ofensif (asam lambung, alkohol, infeksi, obat, kafein, zat kimia). Bila faktor defensif menjadi lebih lemah dari faktor ofensif jadi hal ini menyebabkan timbulnya gejala gastritis. Gastritis mempunyai gejala antara lain mual, muntah, nyeri ulu hati, nafsu untuk makan berkurang, bahkan perut terasa kembung, tetapi tidak semua penderita gastritis menunjukkan gejala seperti hal-hal tersebut, bahkan ada yang tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Perbedaan Dispepsia dan Gastritis Dalam Bantuk Gejalanya

Gejala-gejala pada penyakit Dispepsia:

  1. Timbulnya sensasi panas pada bagian perut atas
  2. Mual
  3. Munculnya kembung pada bagian perut atas
  4. Cepat merasa kenyang saat makan dan munculnya rasa kenyang yang berkepanjangan selesai makan
  5. Sering bersendawa yang berulang-ulang
  6. Terjadinya refluks (Makanan atau cairan yang dari lambung kembali ke kerongkongan)
  7. Muntah sambil bersendawa
  8. Terasa nyeri di ulu hati atau sensasi panad dan nyeri di tengah dada (Terkadang bisa terasa sampai punggung dan leher) yang timbul saat atau selesai makan

Gejala-gejala pada penyakit Gastritis:

  1. Hilangnya nafsu untuk makan
  2. Cepat merasa kenyang pada saat makan
  3. Perut terasa kembung
  4. Munculnya cegukan dan mual
  5. Munculnya rasa sakit pada perut
  6. Terasa nyeri yang menyelimuti dan sensasi panas di dalam lambung
  7. Mengalami gangguan pada saluran pencernaan
  8. Pada saat BAB pada feses berwarna hitam pekat
  9. Lama kelamaan muntah menjadi muntah darah

(Baca Juga: Ketahui cara mengatasi feses yang berwarna hitam)

Perbedaan Dispepsia dan Gastritis Dalam Bantuk Kondisinya

Itulah perbedaan gejala-gejala pada penyakit dispepsia dan gastritis. Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan Dispepsia:

  1. Terjadinya infeksi bakteri yaitu Helicobacter pylori
  2. Akibat efek samping dari penggunaan obat anti-inflamasi nonsterois (Seperti ibuprofen dan aspirin) dan obat golongan nitrat 
    Sponsors Link

  3. Terjadinya tukak lambung (Luka yang terbuka muncul pada lapisan dalam lambung)
  4. Mengalami masalah psikologi (seperti cemas dan stress)
  5. Karena penyakit refluks gasroesofagus (pergerakan balik pada asam lambung menuju ke kerongkongan)
  6. Terlalu banyak mengonsumsi makanan
  7. Mengalami obesitas
  8. Makan terlalu cepat
  9. Konstipasi
  10. Mengonsumsi jenis makanan yang berminyak, berlemak dan pedas
  11. Terlalu sering merokok
  12. Terlalu banyak mengonsumsi minuman yang berkafein. soda dan berakohol
  13. Terlalu banyak mengonsumsi jenis cokelat

(Baca Juga: penyebab dispepsia)

Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan gastritis:

  1. Akibat infeksi bakteru H.Pylori
  2. Mengalami stress
  3. Mengonsumsi minuman beralkohol dengan berlebihan
  4. Akibat efek samping dari konsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (seperti ibuprofen dan aspirin) secara terus-terusan
  5. Penyalahgunaan mengonsumsi obat-obatan
  6. Bertambahnya usia
  7. Terjadinya infeksi bakteri dan virus
  8. Akibat penyakit Crohn dan HIV/AIDS
  9. Terjadinya pada refluks empedu
  10. Mengalami anemia pernisiosa
  11. Mengalami muntah kronis
  12. Akibat reaksi autoimun

(Baca juga: penyebab gastritis)

Itulah kondisi-kondisi yang terjadi pada dispepsia dan gastritis. Jika penyakit semakin parah maka disarankan untuk pergi ke dokter. Berbagai contoh pemeriksaan dispepsia lanjut yang mungkin akan dilakukan oleh dokter, sebagai berikut:

ads
  • Melakukan pemeriksaan pada tinja dan nafas untuk mengecek kebedaraan bakteri H. Pylori
  • Melakukan pemindaian dengan menggunakan CT scan atau X-ray untuk mendeteksi jika adanya obstruksi usus
  • Melakukan pemeriksaan endoskopi dan pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk mendeteksi ada terjadinya masalah pada saluran sistem pencernaan bagian atas
  • Pada pemeriksaan gangguan metabolisme dan gangguan tiroid yang dilaksanakan di laboratorium

Berbagai contoh pemeriksaan gastritis lanjut yang mungkin akan dilakukan oleh dokter, sebagai berikut:

  • Melakukan tes nafas untuk melihat keberadaan bakteri H.Pylori
  • Melakukan pemeriksaan dengan X-ray dan cairan barium untuk melihat adanya tukak pada dalam lambung
  • Melakukan pemeriksaan pada tinja untuk mengecek terjadinya pendarahan dan infeksi pada dalam lambung
  • Melakukan pemeriksaan kadar sel darah untuk mengetahui bila si pasien mengalami anemia atau tidak
  • Melakukan pemeriksaan endoskopi untuk melihat adanya tanda-tanda berupa peradangan pada dalam lambung. Pemeriksaan ini kadang juga dikombinasikan dengan biopsi (mengambil sampel jaringan di daerah yang dicurigai mengalami peradangan untuk setelahnya diamati di laboratorium). Metode biopsi juga bisa dilakukan oleh dokter untuk mengetahui keberadaan bakteri H.pylori

Perbedaan Dispepsia dan Gastritis Dalam Bantuk Pengobatannya

Untuk pemeriksaan secara medis pada dispepsia dan gastritis memiliki perbedaan seperti pada dispepsia yang fokus pada bagian usus dan metabolisme dengan melakukan tes di laboratorium, sedangkan pada gastritis fokus kepada pengecekan di gejala pada bagian lambung dan darah. Beberapa metode pemeriksaan secara media memilki kesamaan yaitu terfokus pada endoskopi dan bakteri H.Pylori untuk mengetahui bagaimana kondisi si penderita.

Ada beberapa jenis obat-obatan yang disarankan untuk mengonsumsi pada penyakit dispepsia yaitu:

  1. Alginat. Obat jenis ini biasanya disarankan/diresepkan dokter jika kasus sakit maag disebabkan oleh refluks asam lambung
  2. Antibiotik. Fungsi dari obat ini mampu mengurangi gejala sakit maag dengan cara mempercepat pengolahan pada makanan
  3. Prokitenik. Fungsi dari obat ini mampu meredakan gejala pada sakit maag dengan cara mempercepat pada pencernaan makanan
  4. Antasida. Fungsi dari obat ini berguna untuk menetralkan asam lambung yang berlebih supaya tidak membuat iritasi dinding pada saluran pencernaan. Antasida juga dapat dibeli di apotek tanpa resep untuk mengatasi gejala pada sakit maag yang masih pada tergolong ringan dan menengah
  5. Obat Antidepresan. Jenis obat ini bisa juga disarankan oleh dokter untuk mengurangi gejala nyeri pada saat sakit maag
  6. Obat antagonis reseptor H2 (H2RA). Jenis obat ini berguna mengurangi jumlah asam lambung
  7. Obat penghambat pompa proton (PPI). Jenis ini sama dengan H2RA, obat-obatan jenis PPI berguna untuk mengurangi kadar asam lambung. Bukan hanya itu, obat ini juga berguna untuk diresepkan untuk penderita sakit maag yang mengalami sensasi panas dan nyeri pada tengah dada.

Ada beberapa jenis obat-obatan yang disarankan untuk mengonsumsi pada penyakit gastritis yaitu:

  • Obat antisida. Obat jenis ini mampu untuk meredakan gejala gastritis (terutama pada sensasi nyeri) dengan cepat secara menetralisir asam pada lambung.
  • Obat antibiotik. Jenis obat ini disarankan atau diresepkan untuk penderita gastritis yang keadaannya diketahui disebabkan akibat infeksi bakteri.
  • Obat penghambat histamin 2 (H2 blocker). Fungsi obat ini mampu meredakan gejala gastritis dengan cara menurunkan kadar produksi asam pada dalam lambung.
  • Obat penghambat pompa proton (PPI). Fungsi obat ini pada penderita gastritis memiliki kinerja yang sama seperti pada penghambat histamin 2, namun jenis ini lebih efektif.
Sponsors Link

Jenis obat-obatan pada dispepsia dan gastritis memiliki perbedaan di mana dispepsia memilki jenis obat-obatan yang lebih banyak dibanding dengan gastritis. Penggunaan obat-obatan ini harus dikonsumsi berdasarkan resep dokter untuk sesuaikan dengan kondisi si penderita.

Jika penyakit dispepsia dibiarkan begitu saja maka akan menyebabkan komplikasi seperti:

  • Stenois pilorus. Keadaan seperti ini disebabkan akibat paparan pada asam lambung di area pilorus (bagian antara lambung dan usus halus) dengan jangka yang panjang
  • Terjadinya penyempitan esofagus. Penyempitan atau striktur di esofagus bisa saja terjadi kepada seseorang yang sering mengalami terjadinya sakit maag karena refluks asam
  • Esofagus Barret. Sama dengan terjadinya penyempitan pada esfogaus, esofagus barret terjadi karena oleh paparan asam lambung pada kerongkongan yang terjadi secara terus menerus.

Jika penyakit gastritis dibiarkan begitu saja maka akan menyebabkan komplikasi seperti:

  • Pendarahan di dalam lambung. Pendarahan yang terjadi pada lambung disebabkan akibat kadar asam lambung yang meningkat dan menyebabkan luka yang bisa mengeluarkan darah di lambung
  • Tukak lambung. Jenis penyakit ini adalah terjadinya luka pada lambung akibat dinding pada lambung mengalami pengikisan sehingga menyebabkan luka
  • Kanker lambung. Saat kanker yang menyerang sel-sel di lapisan pada lambung untuk memproduksi cairan yang berupa lendir (mukus)

Komplikasi yang disebabkan oleh kedua penyakit ini dapat berbeda-beda, sehingga perlunya pengawasan lebih lanjut dan segeri pergi ke dokter untuk mencegah penyakit ini menjadi lebih parah. Setelah mengetahui perbedaan dari penyakit ini dapat diketahui juga bagaimana mengatasi penyakit ini juga. Penyakit ini juga diperlukan pengobatan medis dan mengecek ke laboratorium dari saran dokter. (Baca Juga: perbedaan dari asam lambung dan maag)

Sponsors Link
, , , , ,