Sponsors Link

Diare Persisten : Penyebab, Pengobatan dan Pencegahanya

Sponsors Link

Diare  merupakan penyakit yang sering dijumpai dan menyerang dewasa maupun anak-anak. Namun, umumnya, anak-anak diusia 2 tahun, merupakan kelompok usia yang mudah terkena virus yang menyebabkan diare. Diare merupakan kondisi dimana kegiatan BAB menjadi lebih sering dari sebelumnya. Frekuensi BAB yang normal biasanya 1-3 kali per hari. Namun, saat diare  frekuensi BAB bisa memakan waktu mingguan hingga bulanan.

ads

Dalam dunia kesehatan, terdapat beberapa istilah untuk penyakit diare. Ada yang dinamakan diare akut yang biasanya hanya berlangsung selama 1 minggu cara menghilangkan wasir dengan bawang putih maksimal. Ada juga yang disebut dengan diare persisten atau diare yang berlangsung selama lebih dari 14 hari, yang biasanya disebabkan oleh infeksi karena virus. Bisa dibilang, Diare persisten merupakan jenis diare kronis.

Pengertian Diare Persisten

Diare persisten merupakan jenis diare akut yang keluar tanpa disertai dengan darah dan berlanjut hingga waktu selama 14 hari atau bahkan lebih. Diare biasanya menyebabkan dehidrasi, dehidrasi tersebut cukup berat tingkatanya. Jenis diare ini sering dihubungkan dengan keadaan turunya berat badan serta adanya infeksi non intestinal. Diare persisten bukan termasuk diare kronik atau diare berulang. Diare persisten hanya dimulai setelah jangka waktu penyakit ileus lebih dari 2 minggu.

Diare persisten ini akan berlangsung tanpa henti dan dianggap diare kronis. Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang berbeda. Orang dewasa yang mengalami diare terus menerus dan mengeluarkan feses yang cair, maka bisa jadi orang tersebut mengalami diare persisten yang disebabkan oleh pathogen mikro-organisme yang ada di dalam saluran pencernaanya. Patogen tersebut menyebabkan peradangan di dalam organ pencernaan orang tersebut.

Gejala Diare Secara Umum

Secara umum, seseorang yang terkena diare dari jenis akut, kronis maupun diare karena patogen, akan memiliki gejala yang hampir sama. Diare bisa terjadi karena adanya gangguan system pencernaan. Gangguan ini bisa terjadi pada tahap penyerapan makanan, atau pada tahap pengeluaran enzim di usus. Gangguan tersebut dapat mengakibatkan perubahan jumlah makanan yang tersisa untuk dibuang. Adapun gejala diare secara umum sebagai berikut :

  • Frekuensi BAB menjadi meningkat
  • Jumlah tinja setiap kali BAB juga meningkat
  • Tinja lebih encer
  • Timbul rasa melilit di bagian perut
  • Perut kembung dan sering buang gas
  • Merasa mual dan muntah
  • Pada bayi, kulit disekitar bokongnya menjadi merah
  • Jika ada infeksi, akan mengalami demam
  • Akan mengalami dehidrasi yang membuat badan lemas, terkadang hingga tidak sadarkan diri

Penyebab Diare Persisten

Saat diare, frekuensi BAB kita menjadi lebih sering. Selain itu, cairan tinja kita juga menjadi lebih cair dan bahkan bisa berlangsung cukup lama, hingga lebih dari 14 hari. Gejala diare yang masih berlanjut meski sudah lebih dari 14 hari inilah yang dinamakan diare persisten. Mengapa diare tersebut bisa berlangsung cukup lama dan menyerang kesehatan pencernaan seseorang, berikut ini beberapa alasanya :

  • Penderita mengalami IBS (syndrome irritable bowel syndrome) , yang ditandai dengan munculnya kram di bagian perut, sembelit hingga terjadi infeksi.
  • Inflamatory bowel disease (IBD), biasanya menyerang usia 15 hingga 40 tahun (wanita atau pria). Biasanya dimunculkan bersama adanya bercak darah pada tinja, kemudian ditambah adanya demam serta penurunan berat badan, maka pemeriksaan yang dilakukan adalah dengan alat penunjang dokter.
  • Mikroskopik Kolitis, Penyakit ini sering menjangkiti usia lanjut, disertai dengan munculnya diare persisten yang terjdi di malam hari dengan penyebab yang tidak jelas
  • Malabsorbsi diikuti dengan kentut yang berlebih, BAB yang sulit dan berlemak serta anemia dan penurunan berat badan.
  • Pengaruh obat-obatan tertentu
  • Infeksi kronik

Penelitian Tentang Penyakit Diare Persisten

Sponsors Link

Menurut dannysatriyo.blogspot.co.id , diare persisten adalah salah satu penyakit yang menyebabkan kematian pada anak-anak di Negara maju dan berkembang. Pada pertengahan tahun 1980-an, diare persisten semakin meningkat. WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia juga mengakui bahwa pihaknya yang akan mengendalikan masalah diare persisten ini sudah cukup penyebab bab tidak tuntas maksimal. Hasilnya, diketahui sebesar 10-15% dari diare akut, merupakan diare persisten yang dapat menyebabkan status gizi menjadi memburuk bahkan berisiko kematian.

Beberapa hasil studi juga telah menemukan jenis pathogen penyebab diare persisten. Studi ini telah dilakukan di beberapa Negara seperti India, Bangladesh dan Peru. Hasil studi tersebut menemukan adanya jenis Rotavirus, Aeromonas, Shigella, Campylobacter serta Giardia Lamblia, yang menjadi penyebab utama diare persisten.

Di dalam tubuh bayi, penyakit diare persisten akan merusak jaringan mukosa serta memperlambat kerusakan mukosa yang dapat mengganggu system absorpsi serta sekresi yang abnormal, dengan meminum air atau solute. Proses ini juga dapat menyebabkan infeksi, intoleransi PASI secara terpisah atau bersamaan.

Diare persisten pada bayi juga sering dihubungkan obat tradisional radang usus dengan adanya intoleransi laktosa serta protein susu sapi. Namun, hal tersebut jarang terjadi. Umumnya, diare persisten ini juga terjadi pada tahun pertama kehidupan, yang mempengaruhi pertumbuhan serta pertambahan berat badan bayi dengan cepat. Bayi yang memiliki gangguan gizi sebelum mengalami diare, dikhawatirkan diarenya akan bertambah parah karena tidak adanya asupan makanan selama diare.

ads

Diagnosis Penyakit Diare Persisten

Untuk penderita diare persisten, khususnya pasien anak-anak balita, sebaiknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter ahlinya. Pihak dokter akan melakukan diagnosis dengan memeriksa pasien, menggunakan alat khusus. Alat ini berupa sebuah mikroskopis dan kultur feses. Selain penggunaan alat tersebut, Endoskopi kolon juga bisa diberikan.

Cara Penanganan Diare Persisten Primer dan Sekunder

Diare persisten ini umumnya dapat mempengaruhi status gizi pada anak bayi, karena asupan makanan yang menurun dan adanya gangguan penyerapan makanan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pemberian ASI yang tetap dilanjutkan, sekalipun diare sedang berlangsung. Adapun cara penanganan diare persisten untuk bayi secara primer adalah sebagai berikut :

  • Mengurangi Jumlah Susu Formula

Anak bayi yang mengalami diare persisten, bisa jadi tidak bisa menerima susu sapi, sebab masih belum mampu untuk memecah zat laktosa yang akan melewati organ ciri sembuh dari disentri ususnya. Alternatifnya, bisa diganti dengan sereal atau pemberian susu kedelai saja.

  • Berikan Makanan Dengan Porsi Cukup

Untuk bayi di atas usia 6 bulan, mulai berikan makanan yang mengandung kalori tinggi serta tetap lumat untuk dikonsumsi. Bubur ayam adalah salah satu jenis makanan yang cocok untuk bayi yang menderita diare persisten.

  • Vaksinasi Rotavirus

Berdasarkan data WHO , sebanyak 5% kematian anak karena kasus diare persisten ini, dari berbagai Negara Afrika dan Asia. Hal ini dikarenakan kurang maksimalnya pelayanan kesehatan serta pengembangan vaksin rotavirus yang seharusnya diberikan pada penderita.

  • Imunisasi Campak

Ternyata imunisasi campak juga dapat membantu untuk menurunkan kasus penderita diare persisten ini, khususnya pada bayi. Bayi di usia 9-11 bulan sebaiknya sudah mendapatkan imunisasi campak, dengan harapan dapat menurunkan setidaknya 1.8% angka penurunan kematian karena diare pada bayi dan balita.

  • Memberi Vitamin A

Khususnya bagi anak-anak dan balita yang kekurangan vitamin A, diare persisten yang disebabkan karena virus ini akan sangat mudah menyerang. Sebaiknya anak dan balita diberikan vitamin A yang maksimal untuk mencegah diare persisten.

  • Meningkatkan Konsumsi ASI untuk Bayi

ASI dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit pada bayi. Presentase sebesar 20% adalah efek positif yang ditunjukan ASI pada tubuh bayi yang sedang terkena sakit diare persisten dapat sembuh kembali. ASI dapat menjadi proteksi bagi tubuh bayi agar tidak mudah terserang penyakit penyebab bab tidak tuntas yang disebabkan oleh virus.

Sedangkan penanganan secara sekunder, yaitu untuk menghentikan diare akut berubah menjadi diare persisten yang menyerang anak-anak dan balita serta orang dewasa. Berikut ulasanya :

  • Menghindari pemakaian obat antibiotic yang tidak wajar
  • Menghindari pemakaian obat anti diare yang anti motilitas
  • Menanggulangi penyakit penyerta
  • Menjalankan program diet yang benar sehingga terhindar dari Malnutrisi
Sponsors Link

Dilansir dari website dr-deddy.com , beliau juga menyebutkan dalam blognya tentang beberapa langkah yang ditetap kan oleh organisasi kesehatan dunia atau WHO, dalam cara mengobati ambeien dengan daun pepaya menghentikan gejala diare secara komprehensif. Berikut ini 7 langkah yang disarankan WHO untuk mengendalikan kasus diare:

  • Mengganti cairan untuk cegah dehidrasi
  • Melakukan terapi zink
  • Vaksinasi rotavirus dan campak
  • ASI ekslusif dan Suplemen vitamin A
  • Membiasakan cuci tangan dengan sabun
  • Meningkatkan supplai air bersih
  • Peningkatan kebersihan sanitasi di lingkungan

Selain beberapa langkah pengobatan diatas, kita juga bisa lebih banyak mengetahui tentang diare melalui edukasi diare. Edukasi ini bisa kita mulai tanamkan dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu, kita juga perlu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membawa penderita diare ke rumah sakit. Edukasi semacam ini penting, khususnya bagi para orang tua yang anak-anaknya menderita diare. Diare yang terlambat ditangani, tentunya mengancam jiwa dan kesehatan anak-anak.

Jika Anda atau anak-anak mengalami diare yang terus berlanjut setelah lebih dari 14 hari, maka ini bisa jadi merupakan gejala diare persisten. Segera lakukan penanganan khusus dengan mengunjungi dokter, karena dikhawatirkan diare persisten ini akan bertambah parah jika dibiarkan.

Sponsors Link
, ,
Oleh :
Kategori : Diare