Sponsors Link

14 Dampak Buruk Obesitas Pada Anak dan Dewasa Bagi Kesehatan

Sponsors Link

Bahaya makan berlebihan yang menyebabkan obesitas tidak hanya memperburuk penampilan, tetapi juga berisiko mengundang berbagai penyakit berbahaya. Jangan pernah menyepelekan masalah berat badan karena berat badan ideal baik untuk kesehatan. Obesitas atau kelebihan berat badan biasanya terjadi akibat pola hidup yang tidak sehat seperti tidak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak serat.

ads

Dampak Buruk Bagi Tubuh Secara Umum

Obesitas biasanya tidak hanya disebabkan oleh pola makan, tetapi juga lingkungan. Respon otak terhadap pola konsumsi manis dan tinggi lemak juga berperan membentuk kebiasaan yang tidak sehat. Saat seseorang mengalami obesitas, kebiasaan buruk tersebut cenderung lebih sulit untuk dihilangkan sehingga menimbulkan kerusakan pada otak. Gangguan pada otak dialami karena ketidakseimbangan hormon ghrelin dan leptin.

Kegemukan yang terjadi akibat kebiasaan konsumsi yang tidak sehat, membuat tubuh melakukan sekresi hormon leptin berlebih sehingga tubuh cenderung sering merasa lapar karena otak tidak merespon hormon ghrelin yang memberi sinyal rasa kenyang. Tingginya hormon leptin juga menyebabkan seseorang makan lebih banyak karena orang itu kurang menikmati rasa makanan sehingga dia akan menderita obesitas. Selanjutnya akan dijelaskan dampak buruk bagi otak secara lebih mendalam.

Kondisi ini berbahaya dan berdampak negatif bagi kesehatan karena obesitas akibat kurang serat bisa memicu datangnya penyakit yang serius seperti jantung dan diabetes. Berikut dampak kelebihan karbohidrat dan akibat kelebihan protein yang menyebabkan obesitas bagi penderitanya yang harus diketahui:

  • Sulit Bernapas dan Mendengkur

Sulit bernapas kerap dan pola napas yang pendek biasanya dialami oleh penderita obesitas. Penyebabnya adalah penumpukan lemak di daerah dada dan leher. Orang yang mengalami kelebihan berat badan akut juga akan mengalami gangguan tidur yang identik dengan mendengkur karena jaringan lemak pada tubuh yang menumpuk.

  • Timbulnya Masalah Kulit

Penderita obesitas juga terkena masalah pada kulit akibat perubahan hormon. Timbunan lemak berlebih bisa membuat kulit lebih lebar yang menciptakan garis-garis halus. Lipatan lemak juga membuat jamur dan bakteri tumbuh dan berkembang yang memicu terjadi infeksi pada kulit. Ingatlah obesitas yang menyebabkan masalah kulit, bukan keracunan makanan sehingga ketahui juga tanda tanda keracunan makanan.

  • Nyeri Sendi dan Otot Kaki

Orang yang mengalami kelebihan berat badan sering merasa nyeri pada persendian dan otot kaki. Nyeri pada sendi terutama lutut secara terus menerus bisa merusak postur tubuh. Kelebihan berat badan tentu menambah beban atau tekanan pada lutut dan pergelangan kaki sehingga akan terasa nyeri dan bentuknya menjadi tidak bagus.

  • Depresi

Orang yang terlalu gemuk juga bisa mengalami gangguan psikologis seperti depresi. Penderita obesitas cenderung lebih mudah stres karena merasa rendah diri dengan bentuk tubuhnya dan sedih akibat ejekan orang lain.

  • Sakit Punggung

Penderita obesitas rata-rata mengeluhkan sakit punggung. Apa penyebabnya? Tentu saja lemak yang menumpuk terutama di area perut akan menambah beban pada tulang belakang. Nyeri punggung yang terus berlanjut bisa menyebabkan patah tulang dari dalam.

  • Tekanan Darah Tinggi
Sponsors Link

Salah satu risiko yang dialami oleh penderita obesitas adalah mengalami tekanan darah tinggi. Banyak pengidap obesitas yang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi sehingga memicu penyakit jantung koroner.

  • Varises

Varises bisa menimpa laki-laki atau perempuan yang mengalami obesitas. Varises terjadi saat pembuluh vena melebar karena melemahnya dinding pembuluh darah. Gumpalan pembuluh darah yang berwarna ungu atau biru menjadi pertanda munculnya varises.

  • Memperburuk Tulang Bagi Orang Dewasa

Orang dewasa dan lanjut usia yang mengalami obesitas akan menderita Obesitas osteosarcopenic, yaitu kondisi memburuknya kepadatan tulang dan massa otot yang diakibatkan oleh penumpukan lemak di dalam tubuh. Menurut Jasminka Ilich Ernst, seorang profesor bidang gizi di Florida State University, obesitas menjadi penyebab terbesar masalah tulang.

Kebanyakan penelitian melihat efek obesitas pada kasus metabolik dibandingkan kasus pada tulang, tetapi dampak obesitas pada tulang tidak bisa disepelekan. Ilich Ernst mengatakan, jaringan lemak memiliki dampak negatif terhadap kepadatan tulang, kekuatan otot, dan bisa meningkatkan efek peradangan. Apalagi lemak di perut lebih beracun daripada lemak di bagian lainnya. Perubahan gaya hidup cara terbaik yang bisa mencegah obesitas osteosarcopenic agar tidak mengalami masalah pada tulang dan otot lebih kecil.

ads
  • Memperburuk Tulang Bagi Anak-Anak

Obesitas berdampak buruk pada kesehatan tulang tidak hanya menimpa orang dewasa dan lanjut usia, tetapi anak-anak juga bisa mengalaminya. Anak yang mengalami obesitas lebih berisiko patah tulang dan bertubuh pendek. Anak yang obesitas juga memiliki peluang mengalami patah tulang seperti orang dewasa pada bagian growth plateGrowth plate adalah area jaringan yang tumbuh di ujung tulang panjang. Area jaringan ini menghasilkan jaringan tulang-tulang baru sehingga tulang anak bisa semakin panjang (tumbuh) sehingga anak bisa semakin tinggi.

Tulang panjang ada di bagian kaki dan lengan. Patah tulang di bagian growth plate membuat fungsi jaringan ini tidak optimal sehingga anak tidak bisa tinggi, tulang bengkok, bahkan arthritis. Obesitas juga bisa berpengaruh terhadap telapak kaki anak sehingga menjadi datar. Kondisi ini menyebabkan anak mudah lelah saat berjalan jauh.  Anak dengan kaki datar sebaiknya melakukan latihan peregangan yang berfokus pada tendon di bagian tumit.

Cara lainnya adalah menggunakan sepatu khusus untuk memperbaiki bentuk kaki dan melakukan diet untuk mengurangi berat badan. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, anak-anak yang mengalami obesitas sering mengalami kesulitan untuk bergerak seperti melompat, berdiri dengan satu kaki, menulis, menggunting, dan mengikat tali sepatu.

  • Gangguan Fungsi Otak

Kondisi lemak yang menumpuk akan merusak berbagai saraf otak dan mengubah struktur otak bagian depan penderita obesitas. Saat tubuh kelebihan lemak biasanya pelindung saraf otak (myelin) cenderung mengalami kerusakan secara bertahap. Saraf otak yang kehilangan pelindung tentu akan lebih sulit menyampaikan impulse dari berbagai bagian tubuh dan otak sehingga otak tidak dapat memproses berbagai respon dari tubuh secara optimal.

Berdasarkan sebuah penelitian, kerusakan saraf otak yang diakibatkan obesitas cenderung terjadi pada bagian depan otak sehingga fungsi kognitif otak pada penderita obesitas semakin menurun. Penurunan fungsi otak adalah hal yang wajar terjadi seiring dengan pertambahan usia. Namun, kondisi obesitas dapat mempercepat penurunan fungsi otak, dan jika tidak ditangani dapat menjadi gangguan permanen di usia yang lebih muda. Berikut beberapa gangguan kognitif yang dapat diamati pada  seseorang dengan obesitas:

  • Selalu Ingin Makan dan Minum

Keinginan untuk sering makan dan minum disebabkan oleh rasa ketagihan. Ketagihan sangat erat hubungannya dengan fungsi otak dalam memberikan perintah untuk melakukan suatu kegiatan secara berulang. Otak manusia secara alami mengalami ketagihan pada makanan manis dan berlemak. Kondisi ketagihan ini memburuk saat seseorang mengalami obesitas.

Konsumsi makanan atau minuman akan mengaktifkan bagian pada otak yang bernama stratium yang memberikan perintah konsumsi makanan di samping reaksi hormon. Otak cenderung lebih lambat dalam mengaktifkan bagian tersebut bagi penderita obesitas sehingga orang tersebut cenderung konsumsi makanan lebih banyak.

  • Memicu Perilaku Impulsif

Perilaku impulsif adalah perilaku ‘tidak sabaran’ atau tidak berpikir panjang karena ingin segala sesuatu terjadi dengan cepat dan instan. Impulsif adalah tanda utama bagi seseorang yang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Orbifrontal cortex adalah bagian otak yang mengatur berbagai perilaku manusia. Ahli neurologis menemukan bagian tersebut cenderung lebih kecil dari ukuran normal pada orang yang mengalami obesitas.

Sponsors Link

Ukuran Orbifrontal cortex yang tidak normal menjadi penyebab perilaku impulsif pada individu yang mengalami obesitas. Kerusakan bagian otak akibat obesitas biasanya diawali oleh inflamasi pada berbagai jaringan tubuh termasuk otak. Jika inflamasi terjadi pada bagian otak maka penderita obesitas akan mengalami gangguan perkembangan dan pemulihan jaringan otak sehingga terjadi kelainan. Perilaku impulsif juga bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk yang menuruti nafsu makan yang berlebihan.

  • Gangguan Respon terhadap Stres

Obesitas bisa menyebabkan otak merespon stres dengan cara yang tidak sama dengan orang yang memiliki berat badan ideal. Kondisi ini biasanya terjadi akibat kelaparan yang timbul karena diet untuk menurunkan berat badan pada penderita obesitas. Hal ini justru akan memicu makan yang berlebihan saat seseorang mengalami stres. Jika hal ini menjadi kebiasaan, otak akan selalu memberikan perintah untuk makan sangat banyak sebagai upaya mengatasi stress sehingga berat badan justru semakin meningkat.

  • Menimbulkan Risiko Demensia

Inflamasi pada otak adalah kerusakan yang cukup parah sehingga memicu demensia yang lebih dikenal orang awam dengan sebutan pikun. Otak sebagai pengatur aktivitas tubuh akan lebih cepat mengalami kerusakan jika tubuh mengalami penimbunan lemak pada bagian tertentu atau dikenal dengan obesitas sentral. Kondisi perut buncit dan lengan yang besar membuat berbagai hormon tidak stabil dan otak mengalami beban kerja yang sangat berat untuk menyeimbangkannya. Akibatnya adalah sel otak mengalami kerusakan sehingga ukuran otak menjadi lebih kecil yang memicu penurunan berbagai fungsi kognitif berupa demensia.

Setelah mengetahui berbagai dampak buruk obesitas, sebaiknya segera perbaiki pola hidup kalau merasa tubuh sudah lebih gemuk dari sebelumnya. Obesitas menjadi faktor penyebab utama penyakit degenerative. Obesitas menimpa siapapun dalam usia berapapun sehingga penerapan gaya hidup sehat harus dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit degeneratif dan komplikasinya. Terapkan pola hidup sehat secara bertahap dan konsisten untuk menjaga berat badan agar tidak terus bertambah atau setelah diet tidak kembali seperti semula. Waspada terhadap dampak obesitas!

Sponsors Link
, , , ,
Oleh :
Kategori : Gaya Hidup