Sponsors Link

7 Cara Penularan Penyakit Kolera Yang Harus Dihindari

Sponsors Link

Kolera, atau biasa disebut diare akut ataupun diare presisten, merupakan penyakit yang sering terjadi pada kawasan dengan tingkat higenitias yang cenderung rendah. Namun butuh dibedakan antara kolera, diare akut maupun kronis, karena terdapat berbagai tingkatan dalam penyakit pencernaan yang satu ini. Perbedaan diare akut dan kronik terletak pada durasi terinfeksi bakteri nya, sedangkan kolera merupakan salah satu bagian dari diare akut.

ads

Bakteri yang menyebabkan penyakit ini, atau biasa disebut Vibrio cholerae, akan menyusun masuk ke dalam tubuh akibat berbagai cara. Penyebab diare akut, atau bakteri Vibrio, akan mulai bereaksi jahat dengan mengeluarkan toksinnya pada saluran usus. Setelah tubuh terinfeksi, tubuh kita akan kehilangan banyak cairan akibat mengeluarkan cairan tubuh yang berlebihan. Gejala yang dirasakan biasanya membuat penderita muntah-muntah dan diare dengan feces berbentuk cair.

Jika hal ini terjadi pada kita ataupun keluarga tentunya akan sangat menghambat aktivitas sehari-hari karena tubuh akan terasa lemas tak bertenaga, bahkan jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan kematian.

Gejala Penyakit Kolera

Hal terburuk yang mungkin ditimbulkan saat kita positif dinyatakan terjangkit penyakit kolera adalah kematian. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan membawa kita pada situasi emergensi yang sulit. Agar dapat dilakukan penanganan yang tepat, berikut merupakan gejala yang mungkin timbul pada pasien penderita penyakit kolera :

  • Mual dan Muntah, dirasakan selama berjam-jam awal terinfeksi bakteri
  • Kram Perut, terasa mulas dan perut seperti dipelintir
  • Diare, terjadi dalam kurun waktu yang lama dan frekuensi buang air yang sering dan jumlah cairan feses kurang lebih bisa 1 liter/jam
  • Muka kelihatan pucat, efek dari dehidrasi dalam tubuh
  • Dehidrasi, menyebabkan kulit kasar dan mulut menjadi kering

Penularan Penyakit Kolera

Penyakit ini akan menguras banyak cairan tubuh kita ini ditularkan ke dalam tubuh lewat sifat patologis bakteri Vibrio cholerae. Agar lebih hati-hati dan bisa mengontrol kegiatan yang dapat memicu kolera, berikut ini beberapa cara penularan penyakit kolera yang biasa terjadi pada masyarakat yang patut Anda hindari.

1. Makanan yang terjangkit bakteri V.Cholerae lewat serangga

Makanan yang kiranya berasal dari daerah yang belum terjamin kebersihannya lebih baik diantisipasi untuk dibersihkan, dicuci bersih, dan dimasak dengan matang sebelum dilahap. Bakteri bisa menyebar dari lingkungan sekitar, seperti lewat kaki-kaki mungil serangga. Hewan kecil ini mampu membawa serta bakteri kolera saat mereka hinggap pada bekas feces atau muntahan penderita kolera, dan kemudian hinggap lagi di makanan yang siap kita santap. Rajin-rajinlah menutup tudung saji pada meja makan selesai menyantap kudapan, dan pinta-pintarlah memilih lokasi makan di pinggir jalan. Sebisa mungkin hindari tempat yang mengundang banyak lalat, dan serangga sebangsanya.

2. Air minum yang masih mentah

Disarankan untuk selalu memasak atau mendidihkan air yang ingin diminum, terutama yang keluar dari air kran. Hal ini dikarenakan masih buruknya sistem penyediaan air bersih di Indonesia. Pada sumber air mungkin kualitas air nya sudah dapat dipastikan baik dan bebas dari penyakit, namun yang harus diingat adalah sebelum menuju kran rumah kita masing-masing air tersebut perlu melalui perjalanan yang cukup penjang melewati pipa-pipa besi dan PVC yang belum tentu terjamin kehigienitasannya. Akan lebih aman bagi tubuh jika kita melakukan ‘strerilisasi’ terlebih dahulu terhadap air yang akan kita minum dengan cara memanaskannya hingga mendidih pada suhu >100 Celcius.

Sponsors Link

3. Makanan dan minuman yang terjangkit limbah

Kita sering mengabaikan fakta bahwa bahan makanan yang kita konsumsi berasal dari sumber yang seringnya tidak jelas atau kita tidak tahu darimana, dan bagaimana kondisi saat proses produksi ataupun proses mendapatkannya. Tidak sedikit daging ikan yang didapatkan pada lokasi dekat cemaran limbah misalnya ikan lele yang dikelola di tambak ber jamban, dimana jamban tersebut masih beroperasi aktif dan buangan limbah kotoran manusia langsung jatuh ke dalam air nya. Atau, bisa jadi air yang kita minum berasal dari air sumur bor belakang rumah yang sumurnya dibangun berjarak < 1o meter dari septic tank, sehingga potensi pencemaran limbah E.Coli dan V.Cholerae rawan terjadi pada anggota keluarga yang mengkonsumsi. Selalu waspada dengan konsumsi bahan pangan dan air minum yang sudah matang.

4. Sanitasi yang kurang memadai

Bakteri kolera akan dengan mudah keluar masuk tubuh inang (tubuh manusia) melewati persebaran kontaminasi feces. Seseorang yang terjangkit kolera pada fecesnya akan mengandung bakteri yang sama yaitu bakteri V.Cholerae yang akan berpindah ke tubuh manusia lain bila manusia tersebut mengkonsumsi bahan makanan atau minum air yang sudah terpapar bakteri tersebut.

ads

Oleh karena itu, dibutuhkan sanitasi yang baik pada permukiman kita. Sanitasi yang baik yang dimaksudkan di sini adalah dengan membudayakan hidup bersih. Secara teknis, pada rumah dapat disertakan tanki septic untuk menampung sementara kotoran besar yang kita buang sehari-hari agar tidak mengkontaminasi air tanah dan lingkungan sekitar rumah. Serta, diperlukan pula pembiasan hidup bersih pribadi mulai dari cuci tangan sebelum makan, membuang sampah ke tempat yang seharusnya secara berkala sehingga tidak menumpuk di rumah, dan sebagainya.

5. Sistem penyediaan air bersih yang buruk 

Sistem penyediaan air bersih di Indonesia masih tergolong buruk. Pipa-pipa penghantar air dari sumber produksi menuju rumah banyak memiliki masalah sepanjang perjalanannya, salah satunya adalah permasalahan pipa air bersih yang dipasang berdekatan dengan pipa air limbah. Hal ini bisa menimbulkan akibat yang serius bagi kesehatan orang-orang yang mengkonsumsi air bersih tersebut jika suatu saat terjadi kebocoran pada pipa air limbah.

Jaraknya yang berdekatan, atau bahkan ‘bertumpukan’ akan memperbesar prosentase kemungkinan pencemarannya. Hal ini merupakan pertimbangan yang penting diperhatikan pada saat perencaan sistem distribusi pipa air bersih untuk skala kota, agar masyarakat aman dari bakteri-bakteri patogen yang terbawa dalam air limbah.

6. Sayuran dan buah-buahan yang belum dikupas kulitnya

Kolera dapat tersebar lewat kontak fisik dan mungkin terdapat pada kulit buah-buahan maupun sayuran yang akan kita konsumsi. Sebisa mungkin usahakan untuk merebus sayuran pada air panas untuk meminimalisir bakteri pada permukaan sayuran, dan mengupas kulit buah-buahan kita. Akan lebih aman lagi jika kita memilih buah dengan kulit yang bisa dikupas sendiri di rumah, sehingga lebih bersih dan terjamin kebersihannya seperti mangga, nanas, pepaya, dan lainnya.

7. Susu yang belum dipasteurisasi

Air susu juga menjadi salah satu media yang rawan dalam membawa bakteri kolera. Penyakit kolera mudah berpindah lewat media cair, dan sapi pun juga merupakan binatang ternak dengan banyak kemungkinan tertular karena intensitasnya yang sering ditempatkan berdekatan dengan kediaman pemilik.

Antisipasi bakteri kolera di dalam air susu dengan melakukan pasteurisasi, yaitu dengan memanaskan susu dengan tujuan membunuh mikroorganisme seperti bakteri, protozoa, khamir, kapang dan sebangsanya, juga memprlambat pertumbuhan mikroba pada susu. Pasteurisasi dapat dilakukan dengan 2 pilihan, yang pertama dengan suhu 62,8-65,6°C minimum selama 30 menit, atau dengan suhu 71,7°C selama 15 detik.

Pencegahan Penyakit Kolera

Pencegahan penyakit yang bersumber dari bakteri dapat coba dicegah dengan penggunaan vaksin. Kolera dapat dicegah dengan 2 jenis vaksin oral, yaitu Orochol dan Dukoral yang keduanya merupakan modifikasi virus Vibrio cholera dengan kombinasi genetic tertentu yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Namun vaksin lebih ditujukan untuk misalnya petugas kesehatan yang bertugas pada daerah endemik kolera.

Sponsors Link

Sedangkan untuk turis, ataupun pencegahan preventif sehari-hari dianjurkan dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Makan ditempat sekiranya higienis, mencuci tangan sebelum santap kudapan, memakan makanan matang, meminum air yang sudah dimasak, dan perilaku standar menjaga kesehatan lainnya. Berikut contoh makanan/minuman yang sebaiknya dihindari :

  • Es batu dengan air kran buatan tenda pinggir jalan
  • Ikan mentah yang didapatkan sekitaran air tercemar limbah
  • Sayuran yang dicuci air sungai dengan kemungkinan kontaminasi feses manusia
  • Air kran yang belum tersertifikasi bebas penyakit, seperti air kran Indonesia

Fakta tentang Kolera

Berikut beberapa fakta umum seputar penyakit kolera yang wajib Anda ketahui :

  • Kolera menyebabkan > 100.000 kasus kematian dari kurang lebih 3 juta kasus setiap tahunnya
  • Oralit terbukti ampuh menangangi pasien kolera
  • Penyediaan Sanitasi dan Sarana Air Bersih merupakan hal vital bagi kawasan potensial kolera
  • Kebersihan merupakan kunci pencegahan tertular bakteri kolera (Vibrio cholera)
  • Wilayah Haiti, Yaman & Afrika pernah alami wabah kolera terburuk di dunia
  • Wabah kolera terparah di Indonesia terjadi pada saat bencana Tsunami Aceh melanda, Desember 2004
  • Wilayah pengungsian merupakan lokasi potensial wabah kolera

Penjabaran di atas telah sedikit-sedikit menambah wawasan kita akan cara penularan penyakit kolera yang mungkin terjadi selama kita beraktivitas sehari-hari, beserta informasi terkait lainnya. Ada baiknya kita lebih memperhatikan kebersihan serta jenis makanan dan minuman yang kita konsumsi, kebersihan lingkungan sekitar kita beraktivitas, dan menjaga perilaku standar dalam menjaga kebersihan diri. Semoga kita selalu diberikan kesehatan agar dapat berkegiatan dengan lancar tanpa terjangkit bakteri kolera.

Sponsors Link
, ,
Oleh :
Kategori : Diare