Sponsors Link

3 Bakteri Penyebab Penyakit Disentri yang Wajib Anda Waspadai Segera

Sponsors Link

Disentri tergolong penyakit yang umum karena bisa dialami oleh semua kalangan dengan usia berapapun. Namun, golongan manusia yang mudah terjangkit disentri adalah anak-anak berusia 2 hingga 4 tahun. Mengapa demikian? Karena sistem kekebalan tubuh balita masih lemah. Orang yang sering jajan sembarangan, tinggal di pemukiman kumuh dan padat dengan sanitasi yang buruk serta air bersih yang terbatas juga sangat rentan terkena penyakit disentri karena cara penularan penyakit disentri begitu mudah.

ads

Penyakit disentri adalah keadaan di mana seseorang mengalami radang usus yang menyebabkan diare disertai darah atau lendir. Frekuensi buang air besar yang terlalu sering dengan kondisi tinja yang lembek atau cair menjadi ciri khas dari diare penderita disentri. Ada dua jenis disentri berdasarkan penyebabnya, yaitu disentri basiler atau shigellosis yang terjadi ketika tubuh terinfeksi oleh bakteri shigella dan disentri amuba atau amoebiasis yang terjadi ketika tubuh terinfeksi Entamoeba histolytica  yang hidup di daerah tropis.

Jenis Jenis Bakteri

Penyebab disentri baik amuba maupun bakteri bisa berpindah dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain melalui kontak langsung dengan bakteri pada feses serta makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri. Bahkan, berenang di air yang terkontaminasi juga bisa menjadi sarana penularan disentri. Jenis disentri yang disebabkan oleh bakteri biasanya terdiri dari berbagai jenis bakteri seperti CampylobacterE coli tipe enterohemorrhagic (EHEC), Salmonnella, bakteri Shigellla, dan lainnya. Bakteri Shigella penyebab disentri terdiri dari 4 jenis, yaitu Shigella boydii, Shigella sonnei, Shigella flexneri, dan Shigella dysenteriae. Shigella sonnei merupakan penyebab disentri yang paling sering, sementara Shigella dysenteriae adalah penyebab disentri yang paling parah.

Bakteri penyebab disentri biasanya terdapat di dalam tinja orang yang terinfeksi dan menyebar melalui banyak cara. Contohnya, seseorang tidak mencuci tangan setelah buang air besar sehingga kemungkinan tinja masih tersisa, kemudian orang itu menyentuh benda atau bagian tubuh yang sudah terkontaminasi bakteri penyebab disentri sehingga risiko meningkat. Berenang di air yang terkontaminasi seperti danau ataupun korang renang juga bisa tertular disentri. Tempat atau sarana penyebaran bakteri disentri secara umum antara lain faktor sanitasi yang buruk, lingkungan tempat tinggal, serta makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri Shigella terjadi di dalam sistem pencernaan tubuh. Bakteri yang masuk ke sistem pencernaan akan bergerak ke dinding usus dan masuk ke aliran darah sehingga bisa menginfeksi organ lainnya yang menyebabkan pendarahan pada organ yang terinfeksi tersebut. Darah dari proses pendarahan tersebut  akan keluar bersamaan dengan feses/tinja penderita. Bakteri yang ikut keluar bersama feses bisa bertahan hidup dalam waktu yang lama sehingga bisa menginfeksi tubuh manusia lainnya jika masuk ke dalam sistem pencernaan. Itulah sebabnya penyakit ini tergolong penyakit menular. Penderita yang mengalami disentri harus segera diobati karena jika terlambat kondisinya akan memburuk sehingga mengalami dehidrasi berat yang mengancam jiwa. Berikut penjelasan tentang proses penyebaran bakteri penyebab mencret akibat disentri di dalam tubuh manusia.

  1. Shigella dan EIEC

Mikroorganisme (MO) melakukan kolonisasi di ileum terminalis/kolon terutama di kolon distal, kemudian melakukan invasi ke sel epitel mukosa usus. Setelah itu memperbanyak diri (multiplikasi) dengan melakukan proses penyebaran intrasel dan intersel. Dilanjutkan dengan proses produksi enterotoksin sehingga AMP Siklik (cAMP) meningkat dan terjadi hipersekresi usus yang menyebabkan diare cair dan sekresi.

Lalu bakteri melakukan produksi eksotoksin (Shiga toxin) menjadi sitotoksik dan melakukan infiltrasi sel radang. Selanjutnya bakteri melakukan proses nekrosis sel epitel mukosa menuju ulkus-ulkus kecil sehingga eritrosit dan plasma keluar ke lumen usus. Akibatnya adalah tinja yang bercampur darah dikeluarkan sehingga terjadi invasi ke lamina propia. Fase terakhir, yaitu bakteremia terutama pada infeksi S.dysenteriae serotype 1.

Sponsors Link

  1. Salmonella

Mikroorganisme (MO) melakukan kolonisasi di jejunum/ileum/kolon, kemudian melakukan invasi ke sel epitel mukosa usus dan proses invasi ke lamina propia. Selanjutnya bakteri melakukan infiltrasi ke sel-sel sehingga terjadi peradangan dan proses sintesis Prostaglandin. Pproses produksi dengan tahapan heat-labile cholera-like enterotoksin menyebabkan terjadinya proses invasi ke Plak Peyeri. Penyebaran bakteri ke KGB mesenterium dengan proses hipertrofi sehingga aliran darah menurun ke mukosa. Dilanjutkan dengan proses nekrosis mukosa sehingga dinding ulkus menggaung (berwarna kemerahan) karena eritrosit dan plasma berpindah ke lumen, lalu tinja/feses bercampur darah.

  1. Campylobacter jejuni

Mikroorganisme (MO) melakukan kolonisasi di jejunum/ileum/kolon, kemudian melakukan invasi ke sel epitel mukosa usus dan ke lamina propia. Selanjutnya terjadi infiltrasi sel-sel radang dan sintesis Prostaglandin. Proses produksi dengan tahapan heat-stabile cholera-like enterotoksin dilanjutkan dengan proses produksi sitotoksin sehingga terjadi nekrosis mukosa menuju ulkus. Akibatnya adalah eritrosit dan plasma berpindah ke lumen sehingga tinja/feses bercampur darah dan masuk ke sirkulasi (bakteremia).

Komplikasi Penyakit Disentri

ads

Penyakit disentri yang tidak mendapatkan pengobatan yang tepat bisa menyebabkan komplikasi serius. Beberapa komplikasi yang biasa terjadi sebagai berikut.

  • Artritis

Komplikasi ini terjadi sekitar 2 persen orang yang terinfeksi jenis bakteri Shigella tertentu, yaitu bakteri Shigella flexneri. Orang-yang terinfeksi bakteri ini bisa mengalami nyeri sendi, iritasi mata, dan buang air kecil yang menyakitkan. Kondisi ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

  • Infeksi Aliran Darah (Septisemi)

Komplikasi yang terjadi ketika bakteri menginfeksi bagian tubuh tertentu yang telah memasuki aliran darah. Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi orang dengan sistem kekebalan yang lemah seperti penderita HIV/AIDS, kanker, atau sedang menjalani kemoterapi sangat rentan menderita penyakit ini.

  • Kejang

Anak-anak adalah golongan yang paling rentan mengalami kejang akibat komplikasi dari penyakit disentri. Belum bisa diketahui dengan pasti alasan dan penyebab anak-anak mengalami komplikasi kejang akibat penyakit disentri. Kejang ini umumnya akan hilang tanpa pengobatan setelah kondisi penderita membaik.

  • Sindrom Uremik Hemolitik (HUS) 

Shigella, yaitu S. dysenteriae terkadang bisa menyebabkan HUS. Sindrom Uremik Hemolitik (HUS) adalah gangguan yang biasa terjadi ketika infeksi pada sistem pencernaan telah memproduksi zat beracun yang merusak sel-sel darah merah. Kondisi serius ini harus segera memperoleh pertolongan medis.

Diare sampai keluar darah yang terlalu parah bisa menyebabkan kematian, tidak hanya dehidrasi akut. Saat diare maka tubuh akan kehilangan banyak cairan dan ion tubuh seperti saat dehidrasi. Orang yang mengalami diare akut juga rentan menderita dehidrasi sehingga fungsi organ dan jaringan tubuh tidak dapat bekerja secara optimal. Dehidrasi yang telah masuk fase parah juga menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami berbagai komplikasi serius yang telah dijelaskan sebelumnya terutama syok hipovolemik akibat kehilangan cairan yang terlalu banyak. Syok ini biasanya menyebabkan penderita hilang kesadaran (pingsan) hingga kematian. Diare akibat disentri tidak boleh dianggap remeh. Pasien-pasien tertentu harus mendapatkan perawatan di rumah sakit selama beberapa hari, tetapi pasien lainnya cukup di rawat di rumah dengan istirahat yang total (bed rest).

Cara mengobati disentri yang harus dilakukan pertama kali untuk disentri adalah pemberian antibiotik oleh dokter. Antibiotik sangat ampuh bagi penderita disentri sehingga dokter biasanya meresepkan antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab disentri. Jenis antibiotik yang sering diresepkan oleh dokter adalah Ceftriaxone (diberikan kepada pasien yang hamil), Chloramphenicol, Ampisilin, trimethoprim-sulfamethoxazole, Ciprofloxacin, metronidazole (Flagyl), dan tinidazole (tindamax). Dalam beberapa kasus tertentu, obat lanjutan biasanya diberikan untuk memastikan semua parasit hilang dari tubuh. Antibiotik sangat ampuh membunuh bakteri jika jumlah obat di dalam tubuh terjaga dengan jumlah yang konsisten dan interval yang sama. Konsumsi antibiotik untuk disentri saat tidak dibutuhkan akan meningkatkan risiko infeksi lainnya yang lebih kebal dengan antibiotik. Antibiotik harus dikonsumsi sesuai dengan yang diinstruksikan dokter. Hal yang harus diperhatikan adalah konsumsi obat antibiotik harus sampai habis, meskipun ciri sembuh dari disentri sudah terlihat setelah beberapa hari. Berhenti minum obat ini terlalu dini bisa menyebabkan bakteri penyebab disentri tetap tumbuh sehingga infeksi akan kambuh.

Sponsors Link

Cara lain yang dilakukan untuk mengobati penderita disentri adalah pemberian larutan air dan garam (oralit). Diare ringan mungkin sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari, tetapi diare yang dialami oleh orang-orang tertentu mungkin lebih berat sehingga menyebabkan masalah lain seperti dehidrasi. Minum air yang banyak untuk melawan efek dehidrasi dari diare. Anak-anak biasanya harus dibantuk dengan cairan hidrasi oral seperti oralit. Oralit pada hakikatnya tidak dapat menyembuhkan disentri karena hanya bisa mencegah pasien mengalami dehidrasi.

Tiga bahan dasar untuk membuat oralit yaitu gula, garam, dan air. Campurkanlah semua bahan tersebut dalam wadah apapun. Minumlah cairan tersebut selama beberapa kali dalam sehari hingga tubuh benar-benar pulih. Oralit juga telah tersedia berupa bubuk dalam kemasan yang bisa dibeli di apotek terdekat sehingga harus dilarutkan dalam segelas air untuk diminum. Bagi bayi yang berusia di bawah 6 bulan harus diberi ASI saja untuk mencegah diare semakin memburuk. ASI eksklusif mengandung zat-zat yang bisa menghambat pertumbuhan kuman yang menyebabkan diare. Sedangkan bagi anak-anak dan orang tua yang mengalami dehidrasi akut biasanya butuh penanganan di unit gawat darurat rumah sakit. Pemberian infus lebih efektif untuk memberi asupan ion (air dan garam) ke tubuh daripada melalui mulut karena proses hidrasi jauh lebih cepat.

Setelah mengetahui tentang bakteri penyebab penyakit disentri tentu akan membuat para pembaca lebih waspada terhadap hal-hal yang mungkin bisa menjadi sarana penularan penyakit ini. Kebersihan sangat menentukan kemudahan terjangkitnya penyakit ini atau tidak. Jadi, jagalah kebersihan diri dan lingkungan.

Sponsors Link
, , ,